Alasannya jika seorang guru menggunakan metode ini, maka pembelajarannya tidak pernah terhalang oleh waktu, ruang, dan materi. 2. RA Kartini. Pahlawan kedua ini, sangat identik dengan istilah ''Emansipasi wanita''. Pahlawan yang lahir pada 21 April 1879 dikenal sebagai tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia.
BerandaOPINI/Artikel H.Amin Abdullah KS Pahlawan. H.Amin Abdullah KS Pahlawan. adminsinarpagi. 31 Maret 2021 31 Maret 2021. Ia adalah sosok kepala sekolah pahlawan yang selalu melayani para guru, anak didik dan aktif dimasyarakat. Sosok H.Amin sebagai guru, aparatur negara bidang pendidikan dan sebagai warga negara tentu memberontak.
Melansir profil pahlawan nasional baru 2021: 1.Usmar ismail Dikenal sebagai bapak perfilman indonesia. Usmar Ismail lahir Bukittinggi Sumatera Barat, pada 20
Untukitu, yuk simak contoh-contoh puisi guru di bawah ini. #1. Kaulah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Berangkat ketika semua orang masih sibuk mengurusi keluarganya. Mungkin memang pantas jika engkau disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Sebab, kau ikhlas cerdaskan anak bangsa tanpa meminta balasan.
. Tak perlu diperdebatkan lagi, dua figur berikut ini adalah pelita pengubah bangsa. Menurut pandangan saya, pahlawan adalah orang yang membela tanah air dan berusaha membebaskan bangsa dari penjajahan. Dan guru adalah orang yang membagikan ilmu dan juga pengalaman pada kita. Sering kita dengar bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, guru memang pahlawan yang berusaha untuk membebaskan bangsa dari penjajahan yang bernama “kebodohan”. Jika kita mendengar kata “guru”, bayangan kita akan lari pada sesosok “Oemar Bakrie” yang dinyanyikan oleh penyanyi kawakan Iwan Fals yang mencoba mendeskripsikan guru. Guru sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya pembimbing. Dalam bahasa Jawa, guru adalah “digugu lan ditiru”, artinya didengarkan dan dicontoh. Guru merupakan panutan bagi anak didiknya atau bahkan lingkungan sekitarnya. Menurut wikipedia, guru adalah seorang pengajar suatu ilmu, dan dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk kepada pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, dan melatih anak didik. Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru. Guru pertama kita adalah orangtua, dan guru, baik formal maupun informal, adalah representasi dari orangtua. Daoed Yoesoef 1980 menyatakan bahwa seorang guru mempunyai tiga tugas pokok yaitu tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan. Jika dikaitkan pembahasan tentang kebudayaan, maka tugas pertama berkaitan dengar logika dan estetika, tugas kedua dan ketiga berkaitan dengan etika. WF Connell 1972 membedakan tujuh peran seorang guru yaitu 1 pendidik nurturer, 2 model, 3 pengajar dan pembimbing, 4 pelajar learner, 5 komunikator terhadap masyarakat setempat, 6 pekerja administrasi, serta 7 kesetiaan terhadap lembaga. Guru merupakan salah satu unsur dalam sistem pendidikan, dan merupakan unsur terpenting dan terdepan dalam penentuan hasil akhir dari sebuah proses pembelajaran. Guru berhubungan langsung dengan masa depan sebuah bangsa. Namun juga guru harus mengikuti sistem yang telah ditetapkan oleh pemerintah yang masih mengandalkan sisi akademik, namun dari sisi moral kurang tersentuh. Guru memiliki sifat-sifat dari seorang pahlawan, namun ada beberapa oknum tertentu yang kurang bisa menyesuaikan diri dengan sifat pahlawan tersebut, sehingga dalam melakukan pengabdian hanya setengah hati. Namun itu juga tidak bisa disalahkan, karena sangat manusiawi jika guru mempunyai kebutuhan hidup. Akan tetapi masih ada sosok pahlawan dalam hati sanubari guru yang dengan bermodalkan dedikasi dan semangat yang luar biasa mendidik dan mengajar siswa dengan gaji yang minim demi kemajuan bangsa. Mereka tidak mengharapkan gelar. Biarlah Ibu Pertiwi sebagai saksi bisu dan jasa mereka akan selalu terkenang dalam sanubari anak didiknya. Guru hendaknya tidak hanya mengajar sekaligus pembelajar, Guru adalah pekerja sosial yang bertugas mencerdaskan anak didiknya bukan mengutamakan komersil belaka. Pahlawan jaman dulu berjuang melawan kemerdekaan saat ini Indonesia sudah merdeka sebagai generasi penerus bangsa kita tinggal meneruskan cita-cita pahlawan melalui pendidikan. Guru sebagai pejuang pendidikan, mereka berjuang melawan korupsi dan kolusi melalui tindakan, pengajaran, inovasi. Metode pengajaran yang hanya satu arah, diubah dengan metode dua arah, dimana terjadi interaksi antara guru dan murid. Dan tidak hanya mementingkan nilai akademik saja, namun juga pendidikan moral bermasyarakat. Mari kita tengok sejenak perjalanan hidup dari salah satu pahlawan pendidikan yang napak tilasnya terekam hingga diabadikan sebagai Bapak Pendidikan Indonesia, hari lahirnya dijadikan Hari Pendidikan Nasional. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda. Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, “Tut Wuri Handayani”, menjadi slogan Departemen Pendidikan Nasional. Soewardi berasal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Ia menamatkan pendidikan dasar di ELS Sekolah Dasar Eropa/Belanda. Kemudian sempat melanjut ke STOVIA Sekolah Dokter Bumiputera, tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat anti kolonial. Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Jawa pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya. Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda. Sewaktu pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis pada tahun 1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Ia kemudian menulis “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” atau “Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga”. Namun kolom yang paling terkenal adalah “Seandainya Aku Seorang Belanda” judul asli “Als ik eens Nederlander was”, dimuat dalam surat kabar De Expres tahun 1913. Isi artikel ini terasa pedas sekali di kalangan pejabat Hindia Belanda. Kutipan tulisan tersebut antara lain sebagai berikut “Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”. Akibat tulisan ini ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka atas permintaan sendiri. Namun demikian kedua rekannya, Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda 1913. Ketiga tokoh ini dikenal sebagai “Tiga Serangkai”. Soewardi kala itu baru berusia 24 tahun. Dalam pengasingan di Belanda, Soewardi aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging Perhimpunan Hindia. Di sinilah ia kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akte, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya. Dalam studinya ini Soewardi terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan pendidikan India, Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh inilah yang mendasarinya dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri. Soewardi kembali ke Indonesia pada bulan September 1919. Segera kemudian ia bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922 Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa. Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi “ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” yang berarti di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, dari belakang mendukung. Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia. Dalam kabinet pertama Republik Indonesia, Ki Hadjar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia posnya disebut sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan doctor honoris causa, dari universitas tertua Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, ia dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional. Ki Hadjar Dewantara meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 26 April 1959. Betapa mulia dan besar jasa seorang guru dalam menyumbang kemajuan suatu bangsa. Guru disanjung dan dipuja begitu luar biasa karena diibaratkan sebagai pelita dalam kegelapan, sebagai embun penyejuk dalam kehausan, dan sebagai patriot pahlawan bangsa. Namun apakah cukup hanya berhenti pada sekadar sanjungan dan pujian ? Di zaman yang semakin susah ini, orang tidak akan mampu hidup hanya dengan sanjungan dan pujian. Gelar “pahlawan tanpa tanda jasa” tidak mampu memberi hidup yang layak bagi mereka, bahkan justru membebani. Di zaman ini yang dibutuhkan bukan sekadar sanjungan atau pujian atau gelar, lebih pada perhatian dan penghargaan atas suatu pengabdian yang begitu luar biasa. Jika bukan bangsa ini yang memberi apresiasi atau penghargaan yang selayaknya pada guru, lalu siapa lagi ? Ataukah kita harus berharap pada bangsa lain? Bukankah sejarah membuktikan bahwa kita tidak bisa berharap terlalu banyak pada bangsa lain ? Sungguh ironis, guru yang merupakan profesi yang amat mulia hanya dianugerahi gelar tanpa tanda jasa, Padahal gurulah yang mengantarkan manusia-manusia Indonesia menuju kepada keberhasilannya. Ibaratnya pengorbanan dan jerih payah para guru tidak dapat tergantikan, bahkan dengan penghargaan sekali pun. Suhartono Guru dalam Tinta Emas, 2006ix} menjelaskan bahwa kita bisa membaca dan menulis, guru yang mengajarkan. Kita dapat menduduki jabatan tertentu, guru jugalah yang menghantarkannya. Kita bisa berkreasi atau berwirausaha, ya tetap gurulah yang mempunyai andil besar. Tanpa guru kita tidak dapat seperti sekarang ini. Begitu besar peran seorang guru dalam kehidupan kita. Namun, ketika kita sudah berhasil meraih impian, kita cenderung melupakan jasa-jasa guru. Ketika murid-muridnya telah berhasil menjadi presiden, gubernur, pengusaha, atau apa pun, guru tetaptah guru dengan gaji yang pas-pasan. Yang berubah dari guru hanyalah usianya yang semakin menua. Kata-kata “pahlawan tanpa tanda jasa” diterjemahkan sebagai pengabdian yang tanpa pamrih. Sehingga tidak. mendapat penghargaan atau pun gaji yang layak tidak melawan atau memberontak. Dengan diberi gelar pahlawan dibaca orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran atau pejuang yang gagah berani, bukankah kata pahlawan mengandung makna yang luar biasa sehingga mampu menyihir ribuan guru di negeri ini? Sungguh, kata-kata tersebut seperti senjata makan tuan. Nasib guru dari dulu sampai saat mi sepertinya tidak mengalami perubahan yang signifikan. Bahkan Iwan Fals dalam salah satu lagunya yang berjudul Oemar Bakrie” mengisahkan tentang nasib guru yang memilukan. Dalam lagu tersebut digambarkan sesosok guru yang bernama Oemar Baknie, yang mengabdikan seluruh hidupnya dengan penuh dedikasi sampai usia tua. Meskipun gajinya yang kecil sering “disunat” sehingga semaikin kecil, namun Oemar Bakrie tetap semangat mengajar murid-muridnya. Saat munid-muridnya telah “jadi orang”, sosok guru Oemar Bakrie tetap saja sederhana kalau tidak boleh dikatakan miskin, dan nasibnya pun tak kunjung membaik. Di zaman yang serba komputer, serba instan, dan serba modern mi, nasib guru masih tidak jauh berbeda dengan Oemar Bakrie dalam gambaran Iwan Fals. Seharusnya kesejahteraan guru, baik PNS maupun non-PNS menjadi prioritas perhatian pemerintah. Terlebih para guru yang mengajar di SD dan SMP. Karena, para guru SD dan SMP merupakan bagian dari program wajib belajar. Dalam pelaksanaannya program wajib belajar ini pun melibatkan peran guru non-PNS,. OIeh karena itu, sudah seharusnya jika pemerintah bertanggung jawab atas kesejahteraan mereka, Sertifikasi yang saat ini tengah hangat diperbincangkan di kalangan para guru dan dunia pendidikan pada umumnya menjadi secercah harapan bagi para guru. Meskipun pada kenyataannya proses sertifikasi itu sendiri menjadi begitu rumit karena banyak sekali komponen atau syarat-syarat yang harus dipenuhi. Namun demikian bila seorang guru dinyatakan lulus uji sertifikasi, maka guru tersebut berhak atas tunjangan profesi sebesar satu kali gaji. Hal tersebut berlaku untuk guru negeri maupun swasta. Tunjangan bagi para guru yang lulus sertiflkasi tersebut akan diperoleh dari pemerintah. Kita semua harus menyadari bahwa ujung tombak pendidikan nasional adalah guru. Bila ujung tombak tersebut tidak mendapat perhatian sebaik-baiknya, maka tidak mungkin negeri ini akan semakin terpuruk. Keceriaan para guru menjadi keceriaan bangsa ini. Sebenarnya siapa saja yang bisa disebut sebagai pahlawan pendidikan itu ? Teringat akan beberapa sosok pahlawan nasional yang bergerak di bidang pendidikan dengan tujuan mulia yakni mencerdasakan anak bangsa. Sebut saja Ki Hajar Dewantara yang merupakan salah satu pelopor pendidikan dengan mendirikan Taman Siswa dan banyak mengangkat anak-anak bangsa khususnya yang dari kalangan pribumi. Sedangkan RA Kartini, atau Dewi Sartika juga srikandi di dunia pendidikan dengan mengangkat harkat dan martabat kaumnya meskipun menghadapi kendala yakni nilai-nilai yang berlaku di masa mereka yang sangat menentang hal tersebut. Apakah semua guru itu adalah pahlawan pendidikan? Tidak semua orang yang berprofesi sebagai guru itu benar-benar orang yang mendedikasikan diri untuk memajukan pendidikan bagi sekitarnya. Ada segelintir yang menjadikan profesi pendidik dalam kata lain guru sebagai pelarian sementara sebelum menemukan pekerjaan yang diidam-idamkannya. Jadi pendek kata bukan itu panggilan jiwanya, dan pastinya salah satu andilnya adalah kesejahteraan. Menyoal kesejahteraan guru, memang hal ini menjadi masalah utama yang harus dihadapi. Di satu sisi guru di beberapa bagian negeri sudah menikmati berbagai fasilitas yang memadai seperti tunjangan, sertifikasi dan lainnya, sementara banyak guru lain yang harus berjuang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Hingga ada yang setelah mengajar menjadi juru parkir, pemulung atau mengajar privat dari pintu ke pintu karena penghasilannya yang tidak memadai. Dari sini kadang kesejahteraan berpengaruh pada kinerja serta kemaksimalan seorang pendidik dalam menghidupkan lentera ilmu dalam diri anak-anak didiknya, terlebih jika guru tersebut mengabdi di tempat-tempat terpencil yang jauh dari fasilitas perkotaan yang memadai dan dengan sarana prasarana ala kadarnya. Barangkali bila sang pendidik itu tidak mempunyai gairah kuat dalam dirinya sebagai lentera bagi masyarakatnya, bisa jadi dia akan pergi dan meninggalkan tempat mengajarnya dalam kegelapan. Namun bersyukur masih banyak orang-orang yang mengabdikan dirinya sebagai pendidik di tempat-tempat yang jauh seperti di pedalaman, mereka melakukan segalanya melalui kendala dan keterbatasannya dengan satu misi, yakni mencerdaskan serta memberi sinar terang bagi daerah yang ditempatinya. Program Indonesia Mengajar, dimana programnya menempatkan muda-mudi terpilih untuk mengajar di berbagai wilayah di seluruh Indonesia, juga menjadi salah satu program untuk mencerdaskan anak-anak bangsa utamanya di kawasan terpencil. Para pengajar muda ini ditempatkan di berbagai sekolah diseluruh Indonesia untuk mengajar selama satu tahun, dan diutamakan kawasan yang sulit dijangkau fasilitas perkotaan, dan tentunya hanya dipilih yang benar-benar punya integritas tinggi tanpa pamrih untuk mengabdi pada daerah yang jadi pilihan. Walaupun mungkin masih belum seperti para guru yang rela menempuh jarak berkilo-kilo demi mencapai sekolahnya dengan rasa rela dan ridha untuk berbagi. Profesi pendidik sekali lagi merupakan profesi yang sangat mulia, karena dari pendidiklah semua profesi dicetak. Mau jadi ekonom, agamawan, ilmuwan, astronom dan lain-lainnya semua itu takkan ada bila tidak ada yang mendidiknya dan itu merupakan proses getok tular yang terus menerus dan takkan berhenti. Saya sadar kalau tidak semua pendidik itu bisa disebut sebagai pahlawan pendidikan. Karena seperti yang telah saya tulis sebelumnya, tidak semua orang yang jadi pendidik itu benar-benar berjiwa pendidik, siap mendidik dan juga dididik. Sementara gelar pahlawan pendidikan itu bukanlah penggelaran dari diri pendidik itu sendiri, melainkan diberikan oleh orang sekitarnya, yang merasakan kiprah sosok ini dalam memajukan daerahnya. Bukan sekedar mendidik, tapi juga memberi kontribusi sekecil apapun itu bagi dunia pendidikan. Meskipun mungkin dia bukanlah seperti Ki Hadjar Dewantara, RA Kartini atau bahkan selevel Dewi Sartika, masyarakat yang memberi penilaian. Semoga para guru diseluruh Indonesia dan dimanapun mereka berada bisa lebih meneladani sosok pahlawan pendidikan yang telah memberi warna bagi kemajuan pendidikan di negeri yang masih berkutat dengan segala permasalahan yang ada saat ini. Pemerintah Indonesia seharusnya meningkatkan pendidikan di seluruh daerah di Indonesia. Peningkatan harus dilakukan merata dan tidak condong ke beberapa daerah saja. Sayangnya, masih banyak daerah di Indonesia yang dianak-tirikan oleh pemerintahan di pusat. Mereka merasa tidak mendapat perhatian yang layak, dan itu terlihat jelas dari pendidikan di daerah mereka yang masih jauh ketinggalan. Salah satu daerah yang mengeluh tersebut adalah Papua. Kemakmuran seakan-akan jauh dari Bumi Cendrawasih. Kemiskinan berada di setiap penjuru desa. Fasilitas kesehatan masih sangat minim didapat di sana. Sarana prasarana umum tidak diperhatikan dengan baik oleh pemerintah. Pendidikan yang tidak merata pun semakin melengkapi penderitaan masyarakat. Rakyat Papua sulit untuk melangkah maju membangun daerahnya karena rendahnya tingkat pendidikan. Kemerdekaan sepertinya masih menjadi mimpi bagi banyak orang disana. Mereka masih merasa hanya sebagai penumpang di tanah sendiri. Beruntung, Papua masih memiliki beberapa orang pahlawan pendidikan yang berusaha untuk membangkitkan Sang Mutiara Hitam dari tidurnya. Beberapa mereka seperti Johannes Surya dan Daniel Alexander. Ketimbang memilih kenikmatan pelayanan di perkotaan, mereka lebih memilih untuk melangkahkan kaki mereka di jalanan rusak desa-desa di Papua. Tanpa memandang suku, ras, dan agama, mereka berusaha meningkatkan taraf kehidupan di daerah Papua. Dan menurut mereka, salah satu aspek kunci dari kemajuan Papua adalah kecerdasan dari rakyatnya. Oleh karena itu, kedua orang ini berfokus mengembangkan pendidikan di daerah tersebut. Ketidakadilan masih bersembunyi di banyak pelosok daerah. Kemiskinan selalu menjadi momok yang harus dihadapi rakyat. Pendidikan terus menjadi mimpi yang sulit diraih oleh banyak anak-anak Indonesia. Papua dan daerah-daerah tertinggal lainnya masih membutuhkan para pahlawan pendidikan lainnya yang mau menjejakkan kakinya di tanah berlumpur pedesaan; berani meninggalkan kemapanan demi kemajuan daerah-daerah tertinggal. Sebutan pahlawan biasanya hanya diberikan kepada seseorang yang telah berjasa kepada orang lain. Seseorang yang berjuang, bahkan juga berkorban hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, sekalipun sukses, mereka tidak akan pernah disebut sebagai pahlawan. Tidak pernah ada pahlawan untuk dirinya sendiri. Pahlawan selalu dikaitkan dengan jasa yang diberikan kepada orang lain. Ada berbagai jenis atau tingkat kepehlawanan. Orang-orang yang berjuang dan berkorban untuk kepentingan bangsa dan negaranya, maka mereka itu disebut sebagai pahlawan bangsa. Bagi mereka yang berjasa hingga diakui oleh kalangan luas dan bahkan oleh pemerintah, maka tatkala meninggal dimakamkan pada tempat tersendiri, yang kemudian tempat itu disebut sebagai taman makam pahlawan. Cara tersebut dilakukan adalah sebagai tanda penghormatan kepada yang bersangkutan, dan sekaligus juga agar menjadi tauladan bagi berbagai generasi setelahnya. Prestasi, keberhasilan, kebesaran terkait dengan apa saja, selalu diperoleh dari perjuangan yang tidak sederhana. Perjuangan itu bahkan juga memerlukan pengorbanan. Tidak pernah ada keberhasilan yang diperoleh secara gratis atau tanpa usaha. Bangsa Indonesia menjadi merdeka seperti sekarang ini adalah merupakan buah dari perjuangan dan pengorbanan para pahlawannya. Mereka itu telah mengorbankan apa saja yang dimiliki untuk meraih kemerdekaan, baik pengorbanan itu berupa harta, tenaga, dan bahkan jiwanya. Ribuan orang mati, atau cacat tubuh, oleh karena berjuang merebut kemerdekaan. Namun pahlawan tidak selalu diartikan dalam lingkup besar sebagaimana dicontohkan di muka. Tetapi benar, bahwa sebutan pahlawan selalu dikaitkan dengan perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan itu bisa dilakukan di dalam berbagai bidang, misalnya dalam bidang pendidikan, ekonomi, kebudayaan, seni, agama, dan lain-lain. Para perjuang masing di-masing bidang dimaksud telah melahirkan berbagai jenis pahlawannya. Oleh karena itu muncul sebutan pahlawan pendidikan, pahlawan gerakan sosial, budaya, politik, dan lain-lain. Ada juga sebutan pahlawan dalam pengertian terbatas, misalnya dalam lingkup keluarga. Seorang ibu dan ayah adalah menjadi pahlawan bagi para anak-anak dan cucunya. Mereka itu telah berjuang dan berkorban untuk mengantarkan mereka meraih keberhasilan hidup. Itulah sebabnya, sering kita mendengar ucapan seseorang dengan mengatakan bahwa, ibu atau ayahnya sendiri adalah pahlawannya. Penyebutan itu tentu dimaskudkan untuk memberikan penghargaan, bentuk rasa terima kasih, dan rasa syukur yang mendalam atas jasa yang telah diterimanya. Betapa pentingnya dalam hidup ini agar seseorang berbuat dan bekerja, bukan saja untuk dirinya sendiri, tetapi seharusnya juga untuk orang lain, maka hingga ukuran terbaik bagi seseorang ternyata dilihat dari seberapa besar yang bersangkutan mampu memberi manfaat bagi orang lain. Selanjutnya, supaya bisa memberi manfaat, maka siapapun harus berjuang dan sekaligus berkorban. Hidup, jangan sampai hanya menjadi orang yang diperjuangkan, tetapi sebaliknya, ialah harus menjadi pejuang. Disebutkan bahwa, tangan di atas adalah lebih baik daripada tangan di bawah. Maka agar pesan dimaksud bisa ditunaikan, maka sebagai manusia seharusnya lebih berkualitas, baik dalam ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, pendidikan, teknologi, sosial, dan lain-lain. Perjuangan itu manakala dilakukan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, maka pelakunya akan tercatat sebagai pahlawan, yaitu posisi yang sangat ideal dalam kehidupan ini. [
Di Indonesia, tanggal 10 November 2014 diperingati sebagai Hari Pahlawan. Jasa para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan seperti yang tergambar dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, bagaimana pun, tidak terbantahkan. Atas jasa mereka, bangsa Indonesia bisa menjalankan kedaulatannya. Namun bangsa ini masih membutuhkan para pahlawan untuk terus mengisi kemerdekaannya. Di antara yang paling layak disebut sebagai pahlawan pada saat ini adalah guru. Mengapa guru layak disebut sebagai pahlawan? Apabila orang tua adalah pahlawan besar dalam lembaga sosial terkecil bernama keluarga, maka guru adalah pahlawan besar dalam kesatuan sistem masyarakat yang membentuk lembaga besar bernama negara. Guru menempati posisi sangat penting yang secara langsung maupun tidak langsung menentukan kemajuan suatu negara. Sebab gurulah yang mendidik para murid sehingga suatu saat mereka bisa menjadi presiden, menteri, anggota parlemen, direktur, pegawai negeri, dokter, dan sebagainya. Guru juga lah yang menjadi motor utama sistem pendidikan yang dijalankan oleh negara. Peran besar para guru dalam memajukan suatu bangsa sudah terbukti di negara-negara lain. Asumsinya adalah bahwa bukan hanya kekayaan alam berlimpah yang akan membuat suatu negara menjadi maju, melainkan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki. Kekayaan alam yang melimpah tidak akan bisa dimanfaatkan atau dikelola dengan baik tanpa ada sumber daya manusia berkualitas. Dan para gurulah yang menjadi ujung tombak penyediaan sumber daya manusia berkualitas. Oleh karena itu sudah sepantasnya apabila guru mendapat status sosial dan penghormatan penting dari masyarakat. Dalam hal ini, kita bisa mencontoh Cina. Negara yang menurut PBB, World Bank, dan IMF disebut sebagai negara raksasa ekonomi dunia dengan total GDP terbesar kedua sedunia ini merupakan negara yang para gurunya mendapat penghormatan besar dari masyarakat. Hasil penelitian University of Sussex, Inggris, yang dipublikasi situs BBC pada tahun lalu menemukan bahwa profesi guru di Cina mendapat penghormatan tertinggi dibandingkan negara lain. Menurut survey yang menggunakan ukuran sikap masyarakat terhadap status profesional, kepercayaan, gaji, dan keinginan untuk memilih guru sebagai karir, ini profesi guru di Cina sama levelnya dengan profesi dokter. Hasil studi tersebut memang sejalan dengan budaya di Cina yang menempatkan pentingnya pendidikan dalam kehidupan. Di Indonesia, sayangnya penghormatan atas profesi guru masih kurang, terutama dari masyarakat sendiri. Ungkapan “guru adalah pahlawan tanda jasa”, barangkali mewakili kurangnya penghormatan ini karena meski dianggap berjasa, tapi seolah-seolah guru tidak membutuhkan “tanda jasa” alias penghormatan dari masyarakat. Masih kurangnya penghormatan terhadap profesi guru inilah yang kemungkinan menyebabkan profesi guru kalah mentereng dibanding profesi lain di Indonesia. Masyarakat seringkali melihat profesi sebagai direktur perusahaan swasta atau pegawai pemerintahan lebih baik dibandingkan profesi sebagai guru. Secara struktural, negara memang sudah berusaha menaikkan derajat guru. Melalui sistem sertifikasi diharapkan muncul guru-guru profesional yang mempunyai kompetensi dan mendapat gaji serta tunjangan yang layak. Namun tantangan meningkatkan kompetensi guru sendiri juga banyak. Apalagi problem yang dihadapi guru sendiri juga beraneka ragam, seperti kebutuhan meningkatkan pengetahuan dan kapasitas diri melalui membaca buku atau internet, kursus, juga seminar di sela-sela jam mengajar yang padat. Problem seperti ini banyak dijumpai di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Akibatnya, nilai rata-rata nasional Uji Kompetensi Guru pada 2013 tidak mencapai angka 6,0. Hanya 4,25. Hal ini menjadi tantangan yang harus dijawab negara agar kompetensi guru juga semakin meningkat. Selain kerja keras yang harus dilakukan negara, masyarakat juga harus memberi dukungan dengan memberi penghormatan kepada para guru. Anies Baswedan, pada tahun lalu pernah mengusulkan agar guru mendapatkan status Very Important Person alias VIP dari masyarakat, misalnya dengan menjadikan guru sebagai tamu penting di pesawat sehingga berhak boarding lebih awal, mendapatkan prioritas sebagai pasien penting saat dirawat di rumah sakit, atau menjadikan guru sebagai customer utama di berbagai perusahaan swasta. Namun di luar cara dan lingkup formal tersebut, saya mengusulkan suatu gerakan atau perubahan paradigma revolusioner bahwa semua orang harus menjadi guru. Masyarakat harus berusaha menjadi guru baik dalam pengertian formal maupun non formal. Jika kesempatan menjadi guru formal tidak tersedia, maka jadilah guru non-formal untuk semua orang. Argumentasi gerakan ini adalah bahwa pendidikan tidak boleh hanya dijalankan di ruang-ruang kelas di sekolah. Pendidikan bisa dijalankan di rumah, kantor, mall, café, atau pinggir lapangan olahraga. Masing-masing orang juga mempunyai pengetahuan yang berbeda-beda, yang bisa dibagikan kepada orang lain pada suatu kesempatan. Di kesempatan yang lain, ia bisa menjadi murid dari orang yang mempunyai pengetahuan berbeda. Gerakan kultural semacam ini juga perlu memasukkan nilai-nilai bahwa guru adalah profesi penting sehingga harus ditempatkan dalam status sosial penting di masyarakat. Kebetulan, seperti halnya Hari Pahlawan yang jatuh pada bulan November, Hari Guru jatuh pada 25 November. Kini saatnya masing-masing kita menjadi pahlawan. Guru adalah pahlawan. Semua orang harus menjadi guru. Dan semua orang bisa menjadi pahlawan. Roni Pramaditia, Ketua Medco Foundation Related posts
Artikel ini membahas tentang 7 tokoh fiksi yang sangat menginspirasi untuk menjadi guru yang lebih baik. — Semua tahu, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Nah, pada peringatan Hari Pahlawan kali ini, Ruangguru akan mengulas tujuh tokoh guru dalam cerita fiksi yang bisa menginspirasi kamu. Siapa saja? Supaya tidak berlama-lama penasaran, simak yuk! 1. Severus Snape Harry Potter Kalau kamu suka dengan kisah Harry Potter, pasti tidak asing dengan tokoh yang satu ini. Ia adalah salah satu guru yang mengajar pelajaran Ilmu Pertahanan Sihir, serta membuat ramuan di Sekolah Sihir Hogwarts. Tokoh yang diperankan oleh Alan Rickman ini punya karakter unik dan misterius. Dari seri pertama Harry Potter, Snape selalu digambarkan sebagai sosok guru yang terkesan jahat, dingin, dan tidak bersahabat. Bahkan awalnya banyak yang mengira ia adalah sosok guru yang antagonis dan bertentangan dengan misi Harry Potter. Apalagi, ia dulu juga termasuk dalam salah satu anggota Death Eaters pengikut Voldemort. Severus Snape. Sumber Padahal, soal kesetiaan tak perlu diuji. Sampai akhir hayatnya, Snape tetap setia pada Dumbledore dan Hogwarts. Hal ini dibuktikan dalam adegan film Harry Potter The Deathly Hallows saat Severus rela mengorbankan diri dan tetap setia pada Dumbledore. Hingga akhirnya, rela dibunuh Voldemort dan tetap bersandiwara serta melindungi Harry, juga menjalankan amanah Dumbledore. Snape adalah sosok yang diam-diam selalu menjadi penyelamat bagi Harry dan teman-temannya. Padahal Harry dari awal bertemu tidak pernah menyukainya. Salah satu contohnya adalah ketika Harry yang sedang bertanding Quidditch dan dimantrai oleh Profesor Quirrell. Secara diam-diam, Snape meluncurkan mantra penangkal demi menyelamatkan Harry. Meskipun ia pemarah, namun di sisi lain ia merupakan sosok baik hati. Ketegasannya yang seringkali membuat siswa takut, menunjukkan bahwa ia serius mengajar demi mencerdaskan siswanya. Walau agak tempramental, namun bisa mendisiplinkan siswanya agar tekun belajar. 2. Master Shifu Kung Fu Panda Tokoh Master Shifu pada film Kung Fu Panda adalah guru yang sangat keras. Awalnya, ia tidak percaya bahwa Po punya potensi untuk menjadi seorang master kung fu. Oleh karenanya, ia melatih Po secara keras agar tidak kerasan dan keluar dari perguruan. Namun, setelah diyakini oleh Master Oogway, Shifu pun mencoba percaya dan menghargai kerja keras Po. Master Shifu. Sumber Masalah timbul ketika ia harus melatih Po secara cepat untuk menghadapi Tai Lung. Selama mengajar Po, ia melihat Po melakukan hal-hal fisik yang luar biasa saat dimotivasi makanan. Sejak mengetahui hal tersebut, ia mengubah metode pengajarannya dengan menggunakan makanan sebagai media untuk berlatih kung fu. Penerapan metode ini pun berhasil membuat Po sukses melawan Tai Lung. Nah, sebagai sosok guru memang harus mau tahu metode pembelajaran yang tepat untuk masing-masing siswa. Psst, dalam dunia nyata, tokoh Master Shifu ini merupakan hewan panda merah. Nama ilmiahnya adalah Aiurus fulgens yang kekuatannya maha dahsyat. 3. Charles Xavier Profesor X dalam X-Men Profesor X. Sumber pinterest Tokoh yang satu ini dikenal lumpuh sepanjang komik X-Men. Sosok yang kerap muncul dengan kursi rodanya ini merupakan kepala sekolah sekaligus guru di Sekolah Xavier. Ia adalah seorang telepatis tingkat tinggi yang bisa membaca, mengontrol, dan mempengaruhi pikiran manusia. Selain itu, ia juga seorang otoritas terkemuka pada genetika, mutasi, serta kekuatan psionic. Karakternya yang patut dicontoh adalah ia memancing para siswanya untuk menggali dan mengeksplorasi potensi masing-masing. Hal ini ditujukan untuk mempromosikan pengakuan damai hak mutan dan menengahi koeksistensi mutan dan manusia. Para siswanya mengenal Profesor X sebagai guru yang visioner. Misi mereka disebut sebagai “mimpi Xavier”. Ia sangat dihormati oleh berbagai kalangan. Well, demikianlah sosok guru yang patut dicontoh. Harus mendorong siswa untuk mengenal dan mengasah bakatnya. Selain itu, juga harus mendukung agar bakatnya dapat dimanfaatkan secara positif. 4. Mr. Han Karate Kid Mr. Han. Sumber theiapolis Metode latihan dari terbilang unik. Di awal latihan, Dre hanya diminta untuk menggantungkan jaket yang dikenakannya di gantungan berkali-kali. Menggantung, menjatuhkannya, dan meletakkannya lagi. Ia punya kebiasaan buruk yaitu malas meletakkan jaket di gantungan dan menjatuhkannya begitu saja di lantai meski sering ditegur ibunya. Dre melakukannya dengan sungut-sungut karena bosan dan jengkel. Namun ternyata, gerakan ini adalah salah satu dari jurus bertahan dalam kung fu. Hanya dengan gerakan menggantungkan jaket, Dre jadi mampu menahan serangan pukulan dan tendangan. mengatakan bahwa itu adalah pelajaran dalam kehidupan secara umum. Bukan pukulan dan kekuasaan, melainkkan ketenangan dan kedewasaan adalahkunci yang benar untuk menguasai seni bela diri. Hal yang bisa ditiru dari sosok adalah ia tidak hanya berbagi ilmu, namun juga menekankan norma-norma kehidupan. 5. Master Yoda Star Wars Yoda merupakan salah satu Master Jedi paling kuat dan terkenal dalam sejarah galaksi. Ia adalah anggota dari spesies misterus yang tidak pernah diungkap, dan hanya diberi nama spesies Yoda. Sosoknya dikenal karena kebijaksanaannya yang sudah sangat melegenda, master force, dan keterampilannya menggunakan lightsaber. Master Yoda. Sumber fictionalinterviews Meskipun ia memiliki kekuatan yang sangat besar, ia lebih memilih untuk mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mengajar ketimbang berjuang. Pada salah satu episode, ada adegan di mana Luke Skywalker berlatih menjadi ksatria Jedi di bawah pengawasan Yoda. Dengan gaya bahasa yang khas dan suka membolak-balik antara subjek dan predikat, ia berkata “Try not. Do or do not. There is no try.”. Kalimat ini membuat kita merefleksi diri, apa sudah mengeluarkan seluruh kemampuan terbaik? Sering kali dengan dalih coba-coba, kita berusaha seadanya. Betul, tidak? Dengan mental secetek ini, tidak usah heran jika hasil akhirnya mengecewakan. Bagi Yoda, daripada berusaha setengah-setengah, lebih baik tidak usah sama sekali. 6. Kakashi Hatake Naruto Kakashi. Sumber Sosok guru fiksi yang satu ini mempunya banyak penggemar. Ia merupakan guru dari Naruto, Sasuke, dan Sakura. Selain itu, ia juga dikenal sebagai “Kakashi si ninja peniru” dan memiliki banyak jurus-jurus ninja yang luar biasa. Ia mempunyai peliharan seekor anjing yang kerap membantunya untuk menjalankan banyak misi. Sosok guru yang santai namun juga serius ini membawa siswanya berhasil menjadi sosok yang berhasil menggapai cita-citanya. 7. Dewey Finn School of Rock Tokoh guru dalam film School of Rock ini berawal ketika ia menjadi personil di salah satu band rock. Sayangnya, ia dikeluarkan dan kebingungan mencari uang agar mampu membayar sewa tempat tinggalnya. Finn tinggal bersama temannya yang bernama Schneebly yang berprofesi sebagai guru pengganti guru honorer. Lalu, kekasih Schneebly menyarankan agar Finn segera mencari pekerjaan karena menurutnya Finn pemalas dan benalu. Dewey Finn. Sumber rockcult Finn pun tidak kehabisan akal. Ia nekat menyamar sebagai Schneebly untuk menggantikan seorang guru yang sedang cedera. Keputusan ini ia ambil tanpa sepengetahuan dan persetujuan dari Schneebly lho. Awalnya, ia hanya ingin mengejar honornya saja, tanpa ada niatan untuk mengajar. Namun, karena ia melihat banyak siswa yang berbakat dalam bidang musik, tercetus sebuah ide baru lagi. Ia hendak mengikutsertakan seluruh siswanya untuk sebuah kompetisi band rock. Terlebih, jika berhasil menang tentu uangnya bisa ia gunakan. Lalu, mulailah Finn mengajar musik kepada para siswa dan kemudian membentuk sebuah band yang dinamakan The School of Rock. Hal ini tentu memunculkan pertentangan, baik dari pihak sekolah maupun orang tua. Namun Finn tetap maju karena siswanya pun mendukung. Pantang menyerah serta keceriaan yang Finn bawa membuat siswa-siswi di kelasnya merasa nyaman untuk belajar. Akhirnya hasil kerja keras latihan bisa terbayar di sebuah panggung dengan penampilan yang spektakuler. Demikianlah tujuh sosok guru dalam cerita fiksi yang bisa menginspirasi dan membuatmu BanggaJadiGuru. Kalau guru fiksi andalanmu siapa, smart buddies? Share di kolom komentar yuk! Selamat Hari Pahlawan! IH/TN
Kita sering mendengar bahwa guru adalah sosok pahlawan bagi penerus bangsa. Memegang tugas yang tidak mudah itulah yang memberikan arti guru adalah pahlawan tanpa jasa. Terutama di masa pandemi ini, di mana semua proses belajar mengajar dilakukan secara online sehingga mengharuskan para guru mencari ide kreatif untuk mewujudkan suasana kelas yang kondusif walau hanya lewat aplikasi Zoom. Hal ini juga membuat guru-guru perlu mempertimbangkan cara menyampaikan bahan ajar hanya melalui layar laptop. Tidak semua anak murid atau orang tua memahami cara kerja tekonologi seperti ponsel, komputer, atau laptop. Maka dari itu, guru-guru harus mampu menjelaskan metode ini kepada orang tua, apa yang terbaik yang harus orang tua lakukan demi anaknya tetap mendapatkan materi pembelajaran di sekolah. Lalu bagaimana cara menjadi guru yang menginspirasi di masa sulit ini, karena kita tahu tidak hanya guru saja yang mengalami kendala dan dampak dari adanya pandemi ini. Menjadi guru yang menginspirasi adalah menjadi seseorang yang bisa menyetarakan dirinya dengan anak muridnya. Maksudnya, seorang guru memandang anak didiknya sebagai teman dan kerabat, setia mendengar keluhan dan kesulitan yang mereka alami, serta memberikan pujian penuh atas pencapaian atau keahlian khusus yang dimiliki siswa-siswinya. Pujian atas bakat murid di luar akademis pun juga sangat penting karena setiap anak memiliki kecerdasan dan bakat yang berbeda-beda. Alih-alih memaksakan anak untuk bisa menguasai mata pelajaran tertentu, guru dapat membantu siswa untuk mengembangkan bakat yang mereka minati. Di masa-masa yang masih sulit di Indonesia ini, siswa-siswa membutuhkan dukungan lebih, tidak hanya dari keluarga tapi dari guru-guru mereka juga. Seorang anak yang memiliki mental baik, mereka akan mampu mengembangkan kemampuan, kecerdasan, atau bakat mereka dengan baik pula. Di sinilah peran guru sebagai sosok yang menginspiratif berikutnya, yakni mendorong para siswa untuk menjadi versi terbaik mereka sendiri dan tetap menerapkan materi-materi pembelajaran di kehidupan nyata. Hal lain untuk bisa menjadi guru yang menginspiratif adalah seorang guru harus mampu mendengarkan setiap pendapat anak muridnya. Dengan mengemukakan pendapat secara bebas mampu menumbuhkan sistem pola pikir yang baik terhadap anak. Para murid akan mampu memecahkan masalah mereka sendiri, tentunya dengan bantuan dan saran yang memotivasi dari guru mereka. Selain memberikan bahan ajar, guru juga harus memiliki selera humor yang baik agar sistem belajar mengajar tidak terkesan monoton. Membuat anak betah atau konsentrasi dengan materi yang diberikan bukan suatu tindakan yang mudah. Karena itu guru perlu menyelipkan berbagai kegiatan menarik di luar pelajaran supaya para murid tidak merasa jenuh saat kelas berlangsung. Hal ini bisa dilakukan di semua jenjang pendidikan, mulai dari TK bahkan SMA. Hal-hal kecil seperti di atas mampu menciptakan chemistry antara guru dan murid yang baik, memberikan rasa aman dan nyaman, menggerakkan semangat belajar yang tinggi, serta menjadi pahlawan yang menginspirasi bagi anak-anak penerus bangsa Indonesia. VINANDIA
artikel tentang guru sebagai sosok pahlawan